Hidupku sedang bergerak dengan amat sangat cepat. Aku yang anti-kemapanan (tsailah), merasa kelabakan dengan arus waktu yang seakan tak ingin menungguku yang masih berjalan tertatih-tatih. Aku lelah, aku ingin berhenti saja. Semua ketakutan-ketakutan terdalamku muncul di saat aku sendiri. Setengah mati berusaha kulawan, aku yakinkan diriku sendiri bahwa aku mampu dan segalanya akan baik-baik saja. Aku percaya Tuhan itu baik, dan selalu menolong hamba-Nya yang sedang kesulitan. Awan hitam perlahan tersibak saat pikiran positif mulai menyokong jiwaku.
Di tengah usaha tersebut, meledaklah sebuah bom waktu.
Seperti biasa, ayah, dengan pikirannya yang visioner, yang selalu realistis dan tidak percaya pada keberuntungan, menghempaskanku ke dunia nyata. Tanpa benteng yang kuat, aku runtuh. Tak percaya lagi diriku akan kemampuanku. Masuk kembali dalam lingkaran setan. Susah payah aku bangkit, semudah itulah aku dijatuhkan.
Butuh waktu beberapa hari bagiku untuk berpikir jernih, beberapa hari untuk menata kembali jalan pikiranku. Segalanya menjadi jelas. Aku harus menyelesaikannya secepat mungkin. Aku harus mencari cara untuk tidak kembali ke rumah itu lagi. Aku terlalu lama hidup nyaman sendiri tanpa orang tua, tanpa menyadari betapa lemah tak bertulangnya kepribadianku di bawah bayang-bayang ayah.
Maaf, aku sangat menyayangi keluarga kita, tapi demi kesehatan mentalku sendiri, ini perlu dilakukan. 24 tahun sudah aku hidup dengan memikirkan apa yang ayah mau, tanpa pernah punya pendirian.
Aku. Ingin. Hidup.
Biarkan aku mencari apa yang terasa hilang dari diriku.
Susah payah aku berusaha berjalan di atas benang tipis yang memisahkanku dari "normal" dan jurang depresi. Aku ingin didengarkan.
No comments:
Post a Comment