Masa depan selalu menakutkan bagiku, apalagi dengan konflik antara keinginan diri sendiri dan orang tua. Kadang aku berpikir, sebenarnya apakah orangtuaku memiliki bayangan sedikit pun untuk melepaskanku dan membiarkanku membentuk keluarga sendiri? Karena dari pembicaraan satu arah selama ini, terlihat sekali bahwa ayah belum siap untuk melepas anak perempuannya ini, dan bersikeras bahwa aku harus kembali ke rumah setelah lulus dengan segudang tanggung jawab baru yang membuatku sesak napas dan ingin menangis saja. Bagaimana caraku untuk mengatakan bahwa aku ingin menikah dengan calon pilihanku dan bukan dengan calon yang dijodohkan oleh orang tua? Bagaimana caraku untuk mengatakan bahwa aku ingin merasakan bahagia? Bagaimana caraku untuk mengatakan bahwa aku ingin membangun karirku sendiri dan membantu usaha keluarga dengan cara lain selain kembali pulang ke rumah? Bagaimana caraku untuk mengatakan bahwa aku... lelah? Aku lelah menjadi anak pertama yang selalu harus memberi contoh dan yang paling sering dilarang ini itu. Aku iri dengan kebebasan yang diberikan kepada adik-adikku. Aku iri dengan kesempatan yang mereka dapatkan, yang dulu tidak boleh aku lakukan. Aku....... benar-benar ingin menjadi diriku sendiri, ayah. Aku lelah dengan segala ekspektasi yang berlebihan.
Tenang, aku lebih mungkin untuk kabur dari rumah daripada bunuh diri, heheh. Aku terlalu menghargai nikmat hidup untuk melakukan tindakan drastis semacam itu.
Tuhan, sungguh ini berat bagiku. Mohon tuntunlah jalanku, tunjukkan yang terbaik. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana dan kepalaku rasanya berkunang-kunang setiap memikirkannya.

No comments:
Post a Comment